• SMP NEGERI 1 PREMBUN
  • Where Tomorrow's Leaders Come Together

SEJARAH LOKAL

PARA PENGUASA KEBUMEN

DI ERA KOLONIAL

Ditulis Oleh: ARIS MARGONO

 

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan kasih-Nya sehingga penulisan buku berjudul ”Para Penguasa Kebumen di Era Kolonial” ini dapat diselesaikan. Buku ini disusun sebagai upaya untuk mendokumentasikan sejarah para penguasa Kebumen di era kolonial.

Era kolonial yang dimaksud di sini adalah era penjajahan oleh Belanda sebelum Indonesia merdeka. Pada masa itu, Kebumen masih bernama Panjer, sebuah kadipaten di bawah kekuasaan Kerjaan Mataram. Tulisan pada buku ini mengangkat dinamika politik dan suksesi kekuasan dari Trah Kolopaking ke Trah Arung Binang yang menjadikan nama Pajer berubah menjadi Kebumen.

Harapan kami, buku ini dapat menjadi referensi bagi generasi muda untuk lebih mencintai sejarah lokal dan memahami kondisi politik kekuasaan di masa lalu. Dengan pemahaman yang luas terhadap sejarah akan melahirkan kebijaksanaan. Selaras dengan akronim Jasmerah (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah) yang diungkapkan oleh Bung Karno.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pengumpulan informasi sejarah pada buku ini. Penulis menyadari bahwa buku ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan untuk penyempurnaannya.

 

Kebumen, 2 Mei 2026

Penulis

Aris Margono, S.Pd., M.Pd.

 

SAMBUTAN KETUA MKKS SMP KABUPATEN KEBUMEN

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Salam Sejahtera bagi kita semua, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan.

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kita dapat menyaksikan sebuah pencapaian intelektual yang luar biasa dari salah satu putra terbaik di jajaran pendidikan Kabupaten Kebumen.

Selaku Ketua MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah) SMP Kabupaten Kebumen, saya merasa bangga dan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Bapak Aris Margono, S.Pd., M.Pd., Kepala SMP Negeri 1 Prembun, atas terbitnya buku berjudul "Para Penguasa Kebumen di Era Kolonial".

Menjadi seorang Kepala Sekolah bukanlah tugas yang ringan. Keseharian kita dipenuhi dengan urusan manajerial, supervisi guru, hingga pengembangan karakter siswa. Namun, Bapak Aris Margono berhasil membuktikan bahwa kesibukan tersebut bukanlah penghalang untuk tetap berkarya secara akademis dan literatif.

Kehadiran buku ini merupakan bukti nyata dari semangat Literasi Berkelanjutan yang selama ini kita gaungkan. Beliau tidak hanya sekadar mengimbau, tetapi memberikan teladan nyata (ing ngarso sung tulodo) bahwa seorang pemimpin pendidikan haruslah seorang pembelajar sepanjang hayat.

Saya berharap, terbitnya buku karya Bapak Aris Margono ini dapat menjadi pemantik semangat bagi seluruh Kepala Sekolah dan guru di lingkungan MKKS SMP Kabupaten Kebumen. Mari kita jadikan kegemaran menulis dan meneliti sebagai bagian dari budaya kerja kita.

Akhir kata, selamat kepada Bapak Aris Margono atas peluncuran bukunya. Semoga karya ini menjadi amal jariyah yang bermanfaat bagi ilmu pengetahuan dan menjadi inspirasi bagi kemajuan pendidikan di Bhumi Tirta Praja Mukti Kebumen. Selamat membaca, selamat menyelami sejarah Kebumen.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

Kebumen, 2 Mei 2026

Ketua MKKS SMP Kabupaten Kebumen,

Pranoto, S.Pd., M.Pd.

 

 

DAFTAR ISI

JUDUL

KATA PENGANTAR

SAMBUTAN KETUA MKKS SMP KABUPATEN KEBUMEN

DAFTAR ISI

BAB I

KI BADRANALA  ADIPATI PANJER ROMA

BAB II

TUMENGGUNG KOLOPAKING ADIPATI PANJER

BAB III

K.R.A.H. POERBONEGORO ADIPATI AMBAL

BAB IV

RADEN JOYODINGRAT ADIPATI KARANGANYAR

BAB V

TUMENGGUNG ARUNG BINANG ADIPATI KEBUMEN

DAFTAR PUSTAKA

PROFIL PENULIS

 

BAB I

KI BADRANALA ADIPATI PANJER ROMA

Dalam buku Babad Kolopaking (Nassirun: 2025) dikisahkan bahwa setelah Majapahit runtuh, anak-anak Prabu Kertabumi atau Brawijaya V pergi dari kerajaan. Salah seorang di antaranya adalah Raden Joko Balut. Raden Joko Balut pergi ke wilayah Hutan Mangir, membuka pemukiman di tempat itu. Hingga dikenal dengan sebutan Ki Ageng Mangir.

Ki Ageng Mangir mempunyai anak perempuan bernama Roro Ngaisah. Roro Ngaisah menikah dengan Raden Jaka. Setelah Ki Ageng Mangir meninggal, Raden Jaka menggantikan sang mertua memimpin Perdikan Mangir. Bergelar Ki Ageng Mangir II. Ki Ageng Mangir II mempunyai anak bernama Raden Wanabaya. Setelah Ki Ageng Mangir II meninggal, Raden Wanabaya menggantikan menjadi pemimpin Perdikan Mangir. Gelarnya Ki Ageng Mangir III. Pada masa itu, yang berkuasa di Jawa adalah Kerajaan Mataram. Ki Ageng Mangir tidak mau tunduk, maka dianggap musuh oleh Raja Mataram, Panembahan Senopati.

Ki Ageng Mangir dikenal sakti dan memiliki pusaka Tombak Baru Klinting. Konon, Tombak Baru Klinting merupakan penjelmaan dari anak Ki Ageng Mangir yang beruwujud ular dan dipotong lidahnya, ketika melingkarkan tubuhnya ke Gunung Merapi. Kesaktian Tombak Baru Klinting setera dengan kesaktian Tombak Kyai Plered milik Kerajaan Mataram.

 Ki Ageng Mangir III menikah dengan Putri Pembayun, anak dari Panembahan Senopati, Raja Mataram. Pernikahan ini sebenarnya merupakan startegi Panembahan Senopati agar dapat mengalahkan Ki Ageng Mangir III karena Panembahan Senopati tidak bisa mengalahkan Ki Ageng Mangir III melalui peperangan.

Dalam buku Babad Mangir (Gunawan: 2024) dikisahkan dengan tipu muslihatnya, Panembahan Senopati berhasil menundukkan Ki Ageng Mangir III dengan umpan anaknya, Putri Pembayun. Ki Ageng Mangir III berhasil masuk jebakan. Ki Ageng Mangir III dibunuh oleh Panembahan Senopati dengan dibenturkan kepalanya ke batu gilang, pijakan singgasana Raja Mataram, ketika Ki Angeng Mangir sedang sowan dan bersujud pada  mertua yang sekaligus musuhnya itu.

Ketika Ki Ageng Mangir III meninggal, Putri Pembayun tengah hamil empat bulan. Setelah melahirkan, Putri Pembayun menyusul suaminya, meninggal dunia. Panembahan Senopati memerintahkan Ki Ageng Karanglo membawa bayi Putri Pembayun ke luar kerajaan. Diperintahkan untuk dibunuh. Ki Ageng Karanglo membawa jauh dari kerajaan. Sampai di wilayah Gunungkidul. Bayi merah itu dibawa dengan gulungan tikar pandan. Namun, Ki Ageng Karanglo tidak tega membunuhnya. Menurutnya, bayi yang baru lahir tidak mempunyai dosa apa-apa. Tidak punya kesalahan pada Raja Mataram. Maka tidak layak untuk dijatuhi hukuman. Maka, yang dikuburkan hanya ari-arinya saja, dengan dibungkus tikar pandan. Tempat penguburan itu kemudian dikenal dengan nama Desa Gelaran. Dari kata menggelar tikar pandan, membuka bayi dan ari-arinya. Sementara bayinya dibawa pulang ke Karanglo. Dirawat oleh Ki Ageng Karanglo. Diberi nama Raden Madusena.

Ki Badranala Adipati Pajer yang Pertama

Setelah remaja, Raden Madusena mengembara, berkelana, hingga sampai di Desa Mayangsekar, di wilayah Wojo. Raden Madusena dijadikan menantu oleh Pangeran Hadi. Raden Madusena mempunyai anak laki-laki, bernama Bagus Badranala. Setelah remaja, Bagus Badranala mengembara ke wilayah Panjer. Ia berguru pada Sunan Geseng di lereng Gunung Geyong.

Pada suatu hari, wilayah Panjer kedatangan utusan dari Mataram yang bernama Ki Soewarno untuk mencari tempat yang akan dijadikan sebagai lumbung padi dan pangan Mataram dalam rangka penyerbuan terhadap VOC di Batavia. Bagus Badranala kemudian ditugaskan oleh Sultan Agung untuk membantu Ki Soewarno mengumpulkan bahan pangan dengan cara membeli dari penduduk di wilayah Panjer. Setelah bahan pangan mulai terkumpul dan lumbung padi Mataram di Panjer menjadi lumbung terbesar, pasukan Mataram pun berdatangan ke Panjer dalam rangka penyerbuan VOC ke Batavia. Panjer yang tadinya hanya menjadi lumbung padi Mataram kemudian menjadi basis militer Mataram.

Pada tahun 1629, Bagus Badranala ikut menjadi pengawal bahan pangan Mataram yang dikirim ke Batavia. Di Batavia, beliau juga ikut berperang di daerah Rawa Bangke, Jakata Timur. Atas jasanya, Bagus Badranala kemudian diangkat menjadi senopati perang pada pertempuran melawan VOC di sayap Hutan Kayu, Jakarta Timur yang saat itu bernama Batavia. Beliau dan pasukannya juga berhasil menggempur Benteng Solitude.

Atas jasa-jasanya, Bagus Badranala diangkat menjadi adipati pertama Kadipaten Panjer yang berkedudukan di Panjer Roma (sekarang Kebumen kota). Sementara Ki Soewarno menjadi adipati yang berkedudukan di Panjer Gunung (sekarang Kebumen bagian utara, tepatnya di Desa Banioro, Kecamatan Karangsambung). Dengan diangkatnya Bagus Badranala sebagai Adipati Panjer Roma, maka saat itulah wilayah Kadipaten Panjer secara resmi menjadi daerah di bawah Kerajaan Mataram.

Pada tahun 1643 pasukan VOC mencoba mendarat di Urut Sewu tepatnya di Pantai Petanahan untuk menghancukan lumbung padi dan pangan terbesar Mataram di Panjer. Aksi ini berhasil digagalkan oleh pasukan Panjer yang dipimpin langsung oleh Bagus Badranala dan Ki Ageng Singapatra, mertua dari Bagus Badranala. Tentara VOC pun kembali menuju ke kapal dan meninggalkan Pantai Petanahan. Atas keberhasilannya tersebut, oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma, Bagus Badranala diberi gelar Ki Gedhe Panjer Roma I.

Ki Gedhe Pajer Roma I atau Ki  Badranala mempunyai dua orang anak, bernama Ki Kertasuta dan Ki Hastrasuta. Anak pertama Ki Badranala, yaitu Ki Kertasuta bertugas sebagai demang di Panjer Gunung. Adapun adiknya yang bernama Ki Hastrasuta membantu ayahnya di Panjer Roma.

Setelah lanjut usia, pada tahun 1658, Ki Badranala atau Ki Gedhe Panjer Roma I menyerahkan pemerintahan Kadipaten Panjer Roma kepada putranya yang bernama Ki Hastrasuta dengan gelar Ki Gedhe Panjer Roma II.

Berdasarkan catatan sejarah, Ki Badranala adalah sosok bersejarah yang memegang peran vital dalam cikal bakal Kabupaten Kebumen. Ia dikenal sebagai adipati pertama Kadipaten Panjer Roma. Ki Badranala diangkat oleh Sultan Agung dari Mataram pada tahun 1642 atas jasanya membantu Mataram dalam berperang melawan VOC di Batavia. Ki Badranala memerintah pada tahun 1642-1657.

Setelah masa jabatannya berakhir, Ki Ageng Badranala memilih untuk menjalani kehidupan sebagai pertapa di Gunung Geong. Di sana, ia membersihkan hutan (babat alas) yang terdapat banyak pohon kolang-kaling. Setelah ditebang, dari sisa-sisa pohon itu justru tumbuh tanaman bunga atau kembang dalam bahasa Jawa.  Berdasarkan peristiwa ini, Ki Badranala kemudian menamai daerah tersebut Karangkembang, yang berarti tempat di mana bunga-bunga tumbuh dari lahan yang baru dibuka. Desa Karangkembang terletak di Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen. Di tempat ini Ki Badranala, adipati pertama Kadipaten Panjer dimakamkan.



BAB II

TUMENGGUNG KOLOPAKING ADIPATI PANJER

Ki Badranala menyerahkan jabatan kepada anaknya Ki Hastrasuta yang kemudian bergelar Ki Gedhe Panjer Roma II. Beliaulah yang kemudian berjasa memberikan tanah kepada Pangeran Bumidirja atau Ki Bumi. Pengeran Bumidirja adalah adik Raja Mataram, Sultan Agung. Setelah Sultan Agung wafat, digantikan anaknya, Sunan Amangkurat Agung atau Amangkurat I. Berbeda dengan ayahnya, Amangkurat I memimpin Mataram dengan tangan besi. Tak ada keadilan. Yang ada hanya hukuman yang ditegakkan. Pembunuhan Pangeran Pekik, mertua Amangkurat I, sangat meresahkan hati Pangeran Bumidirja, sebagai penasihat raja.

Pangeran Pekik sangat besar jasanya pada Mataram. Baik pada waktu menyerbu Giri, maupun menyelamatkan Surabaya. Namun, karena kasus Roro Hoyi, sang pahlawan harus dihukum mati beserta 50 keluarganya. Termasuk cucunya yang masih bocah. Sang pahlawan dimakamkan di pemakaman Banyusumurup, makam bagi musuh-musuh kerajaan.

Nasihat Pangeran Bumidirja tidak pernah didengar oleh keponakannya itu. Jalannya kerajaan makin menyedihkan. Banyak pejabat takut pada rajanya. Karena kesalahan kecil akan mendapat hukuman yang berat. Setiap nasihat selalu dibantah dengan amarah. Bahkan beberapa kali terucap kata pengusiran pada sang paman.

Akhirnya, Pangeran Bumidirja merasa tidak kerasan. Kedudukannya sebagai penasihat hanya menjadi hiasan kerajaan saja. Hanya jadi stempel atas kebijakan raja yang tidak bijak. Karena berkali diusir, akhirnya sang pangeran benar-benar pergi meninggalkan kerajaan, meninggalkan kepangeranannya, kebangsawanannya, kedudukannya, jabatannya, dan segala kekayaan sebagai pejabat kerajaan.

Pangeran Bumidirja pergi ke arah barat. Menjadi rakyat biasa. Menyamar dengan nama Ki Bumi. Ki Bumi berjalan terus ke arah barat. Sampai tiba di tepian Sungai Luk Ulo, di wilayah Panjer. Berdiam di tempat itu menjadi petani. Rakyat tidak tahu jika beliau adalah pejabat Mataram. Tempat Ki Bumi tinggal disebut orang dengan nama Kabumian. Dari kata Kabumian, kemudian diucapkan Kebumen.

Asal Mula Nama Kolopaking

Datangnya Pangeran Bumidirja di Panjer Roma, menimbulkan kekhawatiran Ki Gedhe Panjer Roma II dan Tumenggung Wangsanegara Panjer Gunung karena Pangeran Bumidirja saat itu dinyatakan sebagai buronan Kerajaan Mataram. Akhirnya Ki Gedhe Panjer Roma II dan Tumenggung Wangsanegara memutuskan untuk meninggalkan Panjer. Tinggal Ki Kertawangsa yang dipaksa untuk tetap tinggal dan taat pada Mataram. Ia diserahi dua kekuasaan Panjer dan kemudian bergelar Ki Gedhe Panjer Roma III. Dua kekuasaan Panjer, yaitu Panjer Roma dan Panjer Gunung membuktikan bahwa Panjer saat itu sebagai sebuah wilayah berskala luas sehingga dikategorikan dalam daerah Mancanegara Brang Kulon.

Pada tanggal 2 Juli 1677, Trunajaya berhasil menduduki istana Mataram di Plered yang ketika itu diperintah oleh Amangkurat I. Sebelum Plered dikuasai oleh Trunajaya,  Amangkurat I dan putranya yang bernama Raden Mas Rahmat berhasil melarikan diri ke arah barat. Dalam pelarian tersebut, Amangkurat I jatuh sakit. Beliau kemudian singgah di Panjer, tepatnya pada tanggal 2 Juni 1677 yang pada waktu itu diperintah oleh Ki Gedhe Panjer Roma III. Amangkurat I diobati oleh Ki Gedhe Panjer Roma III dengan air kelapa tua (aking). Setelah diobati oleh Ki Gedhe Panjer Roma III, kesehatan Amangkurat I berangsur membaik. Beliau kemudian menganugerahi gelar kepada Ki Gedhe Panjer Roma III dengan pangkat Tumenggung Kalapa Aking atau Kolopaking.

Setelah merasa pulih, Amangkurat I melanjutkan perjalannya menuju ke barat dengan tujuan untuk meminta bantuan kepada VOC di Batavia untuk melawan Trunajaya, akan tetapi sakitnya ternyata kambuh kembali dan akhirnya beliau wafat di Desa Wanayasa, sekarang masuk Kabupaten Banyumas, tepatnya pada tanggal 13 Juli 1677.

Menurut Babad Tanah Jawi (Abimanyu: 2014), kematian Amangurat I dipercepat oleh air kelapa beracun pemberian Raden Mas Rahmat, putranya sendiri yang menyertai beliau dalam pelarian. Sesuai dengan wasiatnya, Amangkurat I dimakamkan di daerah Tegal Arum yang sekarang masuk Kabupaten Tegal sehingga kemudian dikenal dengan nama Sunan Tegal Wangi.

Dalam Babad Karang Sambung dikisahkan bahwa pada tahun 1677, Raja Mataram, Amangkurat I, mengangkat Ki Kertawangsa menjadi Adipati Panjer. Gelarnya Tumenggung Kolopaking I. Pada tahun 1710, setelah memimpin Panjer selama 33 tahun, Tumenggung Kolopaking I meninggal dunia, dan digantikan anaknya, Ki Bagus Mandingin, menjadi Adipati Panjer. Gelarnya Tumenggung Kolopaking II. Pada tahun 1751, setelah memimpin Panjer selama 41 tahun, Tumenggung Kolopaking II meninggal dunia, dan digantikan anaknya, Raden Mas Sulaeman, menjadi Adipati Panjer. Gelarnya Tumenggung Kolopaking III. Pada tahun 1790, setelah memimpin Panjer selama 39 tahun, Tumenggung Kolopaking III meninggal dunia, dan digantikan anaknya, Raden Bagus Gumelem atau Raden Bagus Tumenggung Gondo Kertonegoro, menjadi Adipati Panjer. Gelarnya Tumenggung Kolopaking IV.

Pecahnya perang Diponegoro pada tanggal 20 Juli 1825 meluas sampai ke wilayah Kedu, Bagelen, Banyumas, Tegal, dan Pekalongan. Pada tanggal 21 Juli 1826 datanglah utusan Pangeran Diponegoro ke Kotaraja Kadipaten Panjer. Utusan Pangeran Diponegoro tersebut bernama Senopati Sura Mataram dan Ki Kertodrono, Adipati Sigaluh Karanggayam. Kedatangan mereka di Panjer disambut oleh Tumenggung Kolopaking IV, Senopati Somawijaya dan Banaspati Brata Jayamenggala dengan nama asli Mbah Jamenggala yang akhirnya dihukum gantung oleh Belanda di tengah alun-alun Kebumen karena mendukung Pangeran Diponegoro.

Bersamaan dengan utusan tersebut, datang pula tamu dari Kradenan, yaitu Ki Cakranegara. Mereka kemudian mengadakan perundingan dengan keputusan untuk membantu perjuangan Pangeran Diponegoro yang sedang melawan Belanda. Adipati Panjer, Tumenggung Kolopaking IV bertugas menyediakan logistik pangan, dan persenjataan untuk para prajurit Panjer yang dipimpin oleh Senopati Gama Wijaya dari Ambal.

Keberadaan Pangeran Diponegoro di Kotaraja Panjer ternyata tercium juga oleh Belanda. Beliau berhasil meloloskan diri dari Kotaraja Panjer sebelum daerah tersebut diserbu oleh Belanda yang bekerjasama dengan Arung Binang IV. Penyerbuan terhadap Kotaraja Panjer dilakukan secara besar-besaran dari tiga arah, yaitu dari timur, selatan, dan barat.

Tahun 1830, Pangeran Diponegoro berhasil ditipu dan ditangkap oleh Belanda di rumah Residen Kedu di Magelang. Tahun 1831, Anak Pangeran Diponegoro, Pangeran Suryoatmojo, datang ke Panjer. Menghimpun kekuatan. Prajurit Panjer ditarik dari pertanian, kembali mengangkat senjata. Karena prajurit Pangeran Suryoatmojo kebanyakan dari Panjer, maka Tumenggung Kolopaking IV diangkat menjadi panglima perang utama. Tujuannya adalah menggempur pasukan Belanda di Banyumas. Terjadilah perang besar di Benteng Sokawera.

Tampuk kepemimpinan Panjer periode Kolopaking hanya berlangsung hingga Kolopaking IV dikarenakan adanya suksesi di Panjer pada waktu itu, antara Kolopaking IV dan Arung Binang IV yang berakhir dengan pembagian wilayah dimana Trah Kolopaking mendapat bagian di Karanganyar dan Banyumas, sedangkan Trah Arung Binang tetap di Panjer.

Suksesi inilah yang mengakibatkan Kolopaking IV terluka dan meninggal karena bertempur melawan Arung Binang IV yang dibantu oleh Belanda. Tempat pertempuran berada di area persawahan bernama Si Kenceng yang sekerang terletak di sebelah timur Stadion Candradimuka Kebumen.

Panjer sudah resmi diambil alih seluruhnya oleh Belanda, dan diangkatlah Adipati Arung Binang IV menjadi Adipati Kebumen mulai tahun 1833. Untuk memantapkan kedudukan setelah kemenangannya atas peristiwa pembagian wilayah, Arung Binang IV mendirikan pendopo kadipaten baru yang kini menjadi pendopo dan rumah dinas Bupati Kebumen lengkap dengan alun-alunnya. Adapun pendopo kadipaten lama, yaitu Kadipaten Panjer berada di lokasi Pabrik Minyak Sari Nabati Panjer yang sekarang menjadi Hotel Mexoli.

 

BAB III

K.R.A.H. POERBANEGARA ADIPATI AMBAL

Diceritakan di wilayah Ambal yang berada di wilayah Urut Sewu, ada seorang pemimpin perampok yang terkenal bernama Gama Wijaya. Gerombolan perampok pimpinan Gama Wijaya selalu melaksanakan aksinya dengan menyerang rombongan pengusung upeti dari daerah Urut Sewu yang akan dipersembahkan kepada Kerajaan Mataram. Hasil rampokan tersebut dibagi-bagikan kepada rakyat miskin. Kemudian Kerajaan Mataram mengadakan sayembara, bagi siapa saja yang dapat membunuh Gamawijaya, akan dinobatkan menjadi Adipati Ambal.

Raden Mangunprawira adalah keturunan bangsawan dari Mataram yang mempunyai nama lahir Raden Mohammad Saleh yang juga dikenal dengan nama Raden Mas Semedi. Ia bertugas sebagai kolektur, yaitu penarik pajak atau upeti pada masa kolonial Belanda. Raden Mangunprawira tertarik mengikuti sayembara tersebut. Namun, karena Gama Wijaya memiliki kesaktian yang luar biasa. Maka Raden Mangunprawira tidak bisa mengalahkan dan membunuh dengan kemampuannya sendiri. Maka Raden Mangunprawira mencari bantuan tokoh setempat yang hebat, yaitu Lurah Jeruk Agung yang merupakan saudara seperguruan dari Gama Wijaya.

Lurah Jeruk Agung merasa tidak enak berperang dengan saudara seperguruannya. Maka ia memerintahkan anaknya yang bernama Handogo untuk membunuh Gama Wijaya. Handogo ditemani Raden Mangunprawira berangkat berperang untuk membunuh Gama Wijaya. Oleh ayahnya, ia dibekali pusaka serta syarat jika sudah waktu surup magrib, peperangan dihentikan dan pulang. Sampai waktu magrib tiba, peperangan di hari petama tidak ada yang menang, keduanya sama hebatnya.

Sebelum berperang di hari kedua, Gama Wijaya telah memakan apa yang menjadi pantangan kesaktiannya, yaitu Gandul Mengkel sehingga Nyai Picek teman hidupnya melarang Gamawijaya untuk melanjutkan perang. Namun, Gama Wijaya tetap kekeh untuk melanjutkan perang. Akhirnya Handogo berhasil membunuh Gama Wijaya dengan pusaka dari ayahnya. Kemudian, Raden Mangunprawira memotong kepala Gama Wijaya untuk diserahkan kepada Raja di Keraton Mataram. Adapun tubuhnya ditanam di Pasar Bocor sebagai peringatan bagi rakyat agar tidak berani melawan penguasa.

Nama Gama Wijaya begitu harum di kalangan masyarakat selatan Kebumen, terutama di Kecamatan Ambal. Gama Wijaya dikenal sebagai seorang veteran Perang Jawa (1825-1830), yang berperan sebagai salah satu senopati pasukan Pangeran Diponegoro. Sebagai prajurit yang setia, Gama Wijaya berani menentang penjajahan Belanda dan menjadi salah satu pengikut setia Pangeran Diponegoro. Gama Wijaya kembali ke kampung halamannya di Ambal, namun tak lama setelah itu, dia memilih jalur yang tak biasa untuk meneruskan perjuangannya, yaitu dengan menjadi perampok.

Hidup Sebagai Penjahat

Meskipun kembali ke kampung halamannya dengan niat untuk hidup tenang, kenyataan pahit rakyat di daerahnya yang menderita membuat Gama Wijaya tergerak untuk bertindak. Melihat ketimpangan yang ada, di mana banyak pejabat kolonial mengambil pajak dari rakyat yang sedang menderita, Gama  Wijaya mulai melakukan tindakan yang lebih berani. Ia menyamar sebagai seorang begal dan setiap kali rombongan upeti melewati daerah Ambal, Gama Wijaya akan menghadang dan mengambil harta mereka untuk kemudian dibagikan kepada rakyat miskin.

Dia pun dikenal sebagai "kecu" atau "mbah Begal" di kalangan masyarakat Ambal, dan kisahnya mirip dengan legenda Robin Hood di Inggris.

Buronan Kelas Kakap

Akibat tindakannya sebagai begal yang merugikan pihak keraton dan pemerintah kolonial Belanda, nama Gama Wijaya semakin dikenal luas. Pemerintah kolonial dibuat kesulitan oleh aksinya yang berani, dan akhirnya Keraton Mataram yang pro-Belanda mengadakan sayembara untuk menangkap Gama Wijaya, baik hidup maupun mati.

Hanya sedikit orang yang berani mengikuti sayembara tersebut, salah satunya adalah Raden Ngabehi Mangunprawira, keturunan selir Sultan Hamengkubuwono III. Gama Wijaya terkenal memiliki kesaktian yang luar biasa. Banyak cerita yang menyebutkan bahwa dia kebal peluru senapan, dan bisa menyambung kembali kepalanya yang terpotong.

Raden Mangunprawira berhasil menemukan kelemahan Gama Wijaya, yaitu pada "jimat" berupa kain di kaki Gama Wijaya. Dengan memanfaatkan kelemahan tersebut, Handoko berhasil membunuh Gama Wijaya dengan sejata pusaka. Kepala Gama Wijaya dipotong oleh Raden Mangunprawira dan dibawa ke Keraton Mataram, sedangkan tubuhnya ditanam di Pasar Bocor agar jangan menyatu dan hidup lagi.

Asal Muasal Kadipaten Ambal

Sebagai penghargaan atas keberhasilannya, Raden Mangunprawira diangkat menjadi adipati pertama di Ambal dengan gelar Kanjeng Raden Adipati Haryo (K.R.A.H.) Poerbanagara dan memerintah dari tahun 1828 hingga tahun 1871.

K.R.A.H Poerbonegoro wafat pada tahun 1871. Sepeninggal beliau, jabatan adipati diteruskan oleh putranya, R.T. Prodjonegoro, namun hanya bertahan satu tahun karena Belanda segera membubarkan Kadipaten Ambal pada tahun 1872.

Setelah Poerbanagara wafat, kadipaten Ambal digabung dengan Panjer (Kebumen). Nama "Ambal" sendiri berasal dari kata "Ambalan" atau "Sekambalan", yang berarti "satu kali", karena kadipaten tersebut hanya pernah diperintah oleh Poerbanagara sebagai imbalan atas jasanya membunuh Gama Wijaya.

Adipati Ambal K.R.A.H. Poerbonegoro memiliki gelar Kanjeng Raden Adipati Haryo yang merupakan gelar tertinggi untuk adipati. Masa Jabatan selama 43 tahun.  K.R.A.H. Poerbonegoro membangun Pendopo Agung Ambal. Meskipun kabupatennya kini sudah tidak ada, bekas bangunan pendopo tersebut masih tegak berdiri di Kecamatan Ambal. Beliau dikenal sangat menyukai pacuan kuda, kesenian wayang, dan kuliner sate ayam. Budaya pacuan kuda di pesisir Ambal, seni wayang, dan sate ayam Ambal masih ada hingga kini dan diyakini merupakan warisan kegemaran kaum bangsawan Kadipaten Ambal pada masa K.R.A.H. Poerbonegoro.

Ambal di Masa Kini

Kecamatan Ambal memiliki sejarah yang sangat legendaris dan prestisius dalam kronik sejarah Kebumen. Wilayah ini bukan sekadar sebuah kecamatan, melainkan bekas pusat pemerintahan setingkat kabupaten yang dikenal sebagai Kadipaten Ambal (1828–1872).  Berdirinya Kadipaten Ambal (pasca Perang Diponegoro). Ambal merupakan salah satu wilayah yang lahir dari dinamika politik pasca Perang Diponegoro (1825–1830). Tahun 1828 Pemerintah Hindia Belanda membentuk Kadipaten Ambal sebagai bagian dari Karesidenan Bagelen. Bupati pertama yang paling fenomenal adalah K.R.A.H. Poerbonegoro (1828–1871). Beliau dikenal sebagai pemimpin yang sangat kuat, berwibawa, dan berjasa dalam menata wilayah Ambal menjadi pusat pemerintahan yang teratur.

Pusat Pemerintahan Kadipaten Ambal berada di Desa Ambalresmi. Sisa-sisa kejayaannya masih bisa dirasakan melalui keberadaan alun-alun yang luas dan pola pemukiman bergaya "kota kabupaten".

Masa kejayaan Ambal sebagai kadipaten mandiri berakhir pada tahun 1872. Berdasarkan kebijakan penggabungan wilayah oleh kolonial Belanda. Kadipaten Ambal dibubarkan dan wilayahnya digabungkan ke dalam Kadipaten Panjer. Kadipaten Ambal kemudian diturunkan statusnya menjadi Kawedanan Ambal, yang membawahi beberapa kecamatan di wilayah timur selatan Kebumen.

Ambal adalah pusat dari kawasan Urut Sewu (pesisir selatan Kebumen yang membentang panjang). Wilayah ini sejak dulu merupakan jalur perlintasan tentara dan pedagang dari wilayah Yogyakarta menuju Cilacap dan Banyumas. Karena tanahnya yang berpasir namun memiliki akses air tanah yang baik, Ambal tumbuh menjadi pusat pertanian pesisir yang tangguh.

Pusat peternakan kuda dan budaya sejarah Ambal juga tidak lepas dari tradisi berkuda di masa pemerintahan Adipati Poerbonegoro. Ambal dikenal sebagai pusat pengembangbiakan kuda yang berkualitas. Pacuan Kuda adalah tradisi balap kuda di Pantai Ambal yang masih eksis hingga saat ini merupakan warisan budaya yang sudah berumur ratusan tahun, yang awalnya digunakan sebagai ajang latihan ketangkasan berkuda bagi para prajurit kadipaten.

Kuliner sebagai sejarah identitas Ambal yang paling terkenal saat ini adalah sate ayam Ambal. Sate ini memiliki sejarah unik karena bumbunya yang menggunakan tempe rebus yang dihaluskan, bukan kacang tanah seperti sate pada umumnya. Hal ini mencerminkan kearifan lokal masyarakat Ambal dalam memanfaatkan sumber protein nabati, yaitu kedelai atau tempe yang melimpah di wilayah tersebut sejak zaman dahulu. Jejak sejarah dan situs penting adalah  Alun-alun Ambal yang menjadi saksi bisu pusat pemerintahan Kadipaten Ambal yang masih tertata rapi. Makam K.R.AH. Poerbonegoro, menjadi situs ziarah sejarah yang penting untuk mengenang sosok pendiri Kadipaten Ambal.

 

BAB IV

RADEN JOYODINGRAT ADIPATI KARANGANYAR

Pada tanggal 18 April 1829, Adipati Roma, Raden Banyak Wide yang bergelar Tumenggung Kertonegoro IV, ditangkap Belanda di daerah Kemit oleh Mayor Buschken karena ia merupakan Senopati perang Pangeran Diponegoro. Ditangkapnya Senopati Banyak Wide untuk memutus hubungan dengan para pendukungnya. Beliau diasingkan ke Ternate. Setelah bertambah usia dan semakin tua, atas  permohonan keluarga yang bersangkutan diizinkan kembali ke Jawa, dan bertempat tinggal di Pejagoan di barat Kebumen, di seberang Sungai Luk Ulo. Ketika meninggal, jenazahnya dimakamkan di Pekuncen di utara Gombong.

Perang Diponegoro selesai, wilayah Kadipaten Roma menjadi milik Belanda. Adipati Banyak Wide sudah ditangkap dan dibuang ke Ternate. Diangkatlah Adipati Roma yang baru, yaitu Tumenggung Sindunegara. Tidak berapa lama menjabat, Tumenggung Sindunegara diganti lagi oleh Belanda. Diangkatlah Raden Joyoprono, salah seorang pengikut Pangeran Diponegoro yang sudah menyerah. Raden Joyoprono diangkat menjadi Adipati Roma dengan gelar Raden Adipati Ario Joyodiningrat.

Raden Adipati Ario Joyodiningrat memindah ibukotanya ke sebelah timur, di Karanganyar. Hingga disebut Kadipaten Karanganyar. Dalam perjalanannya, Adipati Ario Joyodiningrat sering berselisih dengan Belanda, hingga mengundurkan diri dari jabatan adipati. Setelah pensiun, kemudian pindah ke Purworejo. Lalu ikut anaknya yang menjadi Adipati Wonosobo, sampai hari tuanya. Akhirnya, Adipati Ario Joyodiningrat meninggal di Wonosobo. Dimakamkan di Makam Candiwulan. berada di Dusun Ketinggring, Desa Kalianget, Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Wonosobo.

Trah Kolopaking Diberi Kekuasaan di Luar Kebumen

Belanda mengangkat pengganti Adipati Ario Joyodingrat yang mengundurkan diri. Bukan anak dari Adipati Ario Joyodiningrat, melainkan trah Kolopaking. Tumenggung Kolopaking IV, tidak boleh berkuasa di Kebumen karena Kebumen sudah diberikan Belanda kepada Tumenggung Arung Binang. Sebagai gantinya, keturunan Kolopaking diberi hak di luar Kebumen. Kedua anaknya diangkat menjadi Adipati Banjarnegara dan Adipati Karanganyar. Adipati Jayanegara menjadi Adipati Banjarnegara. Sedangkan Adipati Kartanegara menjadi Adipati Karanganyar dari tahun 1864 - 1885. Setelah meninggal, Adipati Kartanegara dimakamkan di Ujunggiri. Sekarang masuk Desa Pekuncen, Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen.

Adipati Kartanegara meninggal, yang menggantikan adalah anaknya. Adipati Sukadis Kartanegara menjabat sebagai Adipati Karanganyar dari tahun 1885 - 1902. Setelah meninggal, Adipati Sukadis Kertanegara dimakamkan bersama ayahnya di Makam Ujunggiri. Letaknya di Desa Pekuncen, Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen.

Adipati Sukadis Kartanegara meninggal pada tahun 1902, yang menjadi Adipati Karanganyar bukan anaknya. Padahal, sang adipati punya lima orang anak laki-laki dari istri permaisuri. Belanda justru mengangkat orang lain, yaitu Adipati Tirtokusumo (1902 - 1912). Adipati Tirtokusumo kemudian dikenal orang, karena menjadi pemimpin pertama organisasi kebangkitan nasional, Budi Utomo. Setelah meninggal, Adipati Tirtokusumo dimakamkan di Karangkemiri, Karanganyar, Kebumen.

Adipati Tirtokusumo meninggal, yang menggantikan adalah anaknya. Raden Adipati Iskandar Tirtokusumo (1912 - 1936). Adipati Iskandar Tirtokusumo membawa kemajuan bagi Kadipaten Karanganyar. Diantaranya adalah mendirikan sebuah rumah sakit untuk umum bernama Panti Raga Nirmala. Adipati Iskandar menjadi Adipati Karanganyar terakhir. Karena pada tahun 1936, Kadipaten Karanganyar dihapus oleh Belanda. Bupatinya dipindah ke Kabupaten Demak. Wilayahnya digabung ke Kabupaten Kebumen. Setelah meninggal pada tahun 1967, Adipati Iskandar Tirtokusumo dimakamkan di dekat makam ayahnya. Di Desa Karangkemiri, Karanganyar, Kebumen.

Kadipaten Karanganyar dihapus, sejarahnya seolah hilang. Padahal sejarahnya sangat panjang.  Bermula dari bersatunya Kadipaten Kaleng dan Kadipaten Kapucang pada jaman Kasultanan Demak hingga Kasultanan Pajang. Lalu ganti nama menjadi Kadipaten Roma. Yang pertama menjadi Adipati Roma  adalah anak Adipati Janah, yaitu Adipati Kertiwecana. Pusat pemerintahan berada di Pucang Jajar. Sekarang jejaknya berada di Desa Kedungpuji, Kecamatan Gombong, Kabupaten Kebumen. Adapun Kadipaten Kaleng jejaknya ada di Desa Kaleng, Kecamatan Puring.

Kadipaten Roma adalah gabungan dari Kadipaten Kaleng dan Kadipaten Kapucang. Kadipaten Kaleng dipimpin oleh Adipati Banyak Kumara. Kadipaten Kapucang dipimpin oleh Adipati Janah. Setelah digabung, Kaleng dipimpin oleh anak Adipati Banyak Kumara bernama Ngabehi Wirakerti. Makam Ngabehi Wirakerti berada di Desa Kaleng, Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen. Orang menyebutnya sebagai Makam Mas Kumambang.

Selain Kadipaten Kaleng dan Kadipaten Kapucang, di wilayah Kebumen juga pernah berdiri Kadipaten Sruni. Dalam Babad Sruni diceritakan peristiwa tentang saling curi-mencuri keris pusaka Mataram, Kanjeng Kyai Jabardas. Keris itu disimpan di Keraton Mataram, dalam lindungan sang raja, Amangkurat I.

Karena dikenal sebagai raja yang kejam, banyak para adipati yang tidak nyaman. Salah satunya adalah Adipati Sruni, Tumenggung Kertinegara. Adipati Sruni ingin memberontak, tidak mau tunduk pada Amangkurat I. Salah satu caranya adalah dengan memiliki pusaka Mataram, Kanjeng Kyai Jabardas. Adipati Sruni mengirim prajurit mata-mata ke Mataram menyamar untuk melamar menjadi abdi. Singkat cerita, prajurit mata-mata berhasil menjadi abdi yang sangat dekat dengan raja. Hingga tidak ada yang curiga kepadanya. Maka diambillah keris pusaka Kanjeng Kyai Jabardas dari gudang pusaka. Pusaka dibawa pulang ke Sruni. Diberikan pada Tumenggung Kertinegara. Adipati Sruni merasa yakin, pemberontakannya akan berhasil karena pusaka Mataram telah berhasil dicurinya.

Sementara itu, di Mataram, setelah tahu pusaka kerajaan dicuri, Amangkurat I kebingungan. Tanpa pusaka itu, Mataram akan kalah oleh yang memilikinya. Atas usul patihnya, sang raja mengirimkan prajurit mata-matanya ke Sruni. Untuk mengambil kembali Keris Pusaka Kanjeng Kyai Jabardas. Dikirim seorang demang bernama Sutawijaya. Sesampai di Sruni, ia mengaku telah diusir oleh Amangkurat I. Meminta perlindungan pada sang adipati. Kedatangan orang Mataram ke Sruni jelas mencurigakan. Adipati Sruni pun menaruh curiga. Namun, karena si mata-mata sangat pintar mengambil hati, kecurigaan akhirnya hilang. Bahkan berganti menjadi kepercayaan. Saking percayanya, sampai-sampai seluruh masalah pemerintahan selalu dibahas dengannya. Bahkan, anak Adipati Sruni kemudian dinikahkan dengan anak laki-laki Demang Sutawijaya. Dengan bumbu cerita, akhirnya anak Demang Sutawijaya berhasil mengambil kembali Keris Pusaka Kanjeng Kyai Jabardas. Keris Pusaka Kanjeng Kyai Jabardas akan dikembalikan ke Mataram. Namun sayang, pada waktu itu terhalang pemberontakan Pangeran Trunojoyo. Istana Plered diserang, Amangkurat I melarikan diri. Mataram kalah, salah satu penyebabnya Keris Pusaka Kanjeng Kyai Jabardas tidak berada di Mataram, tapi di Kadipaten Sruni. Bekas Kadipaten Sruni terletak di Desa Sruni, Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen.

 

BAB V

TUMENGGUNG ARUNG BINANG ADIPATI KEBUMEN

Saat pemerintahan Kadipaten Panjer dipimpin Ki Hastrasuta atau Ki Gedhe Panjer Roma II, datanglah Pangeran Bumidirja ke wilayah Panjer. Kedatangan Pangeran Bumidirja diterima dengan baik dan kemudian diberi tanah yang letaknya di utara kelokan Sungai Luk Ulo. Tanah itu kemudian dijadikan pondok atau padepokan yang sangat terkenal.

Karena Pangeran Bumidirja saat itu menyamarkan namanya menjadi Kyai Bumi atau Ki Bumi, maka tanah padepokan tersebut kemudian dikenal orang sebagai Ke-Bumi-an (tempat Kyai Bumi) yang lama kelamaan pengucapan kata "Kebumian" berubah menjadi Kebumen, sebutan bagi Kabupaten Kebumen.

Tanah pemberian Ki Gede Panjer Roma II kepada Pangeran Bumidirja terletak di sebelah Timur Sungai Luk Ulo dengan panjang kurang lebih 3 Pal ke arah Selatan dan lebar setengah (½) Pal ke arah Timur. Pangeran Bumidirja kemudian membuka tanah (trukah) yang masih berupa hutan tersebut dan menjadikannya desa. Desa inilah yang kemudian bernama Trukahan (berasal dari kata dasar Trukah yang berarti memulai). Seiring berjalannya waktu nama Desa Trukahan kini hanya menjadi nama padukuhan saja (sekarang masuk dalam wilayah Kelurahan Kebumen). Riwayat Desa Trukahan yang kemudian berubah menjadi Kelurahan Kebumen pun kini nyaris hilang, meskipun Balai Desa atau Kantor Kelurahan Kebumen hingga kini berada di daerah tersebut.

Dalam Babad Kebumen dan Babad Arung Binang diceritakan yang pada intinya, bahwa Pangeran Bumidirja membuka tanah di sekitar Sungai Luk Ulo. Dia melepas kebangsawannya agar bisa membaur dengan masyarakat sekitar.

Menurut “Sejarah Kebumen dalam Kerangka Sejarah Nasional“ yang ditulis oleh Dadiyono Yudoprayitno mantan Bupati Kebumen, disebutkan bahwa Pangeran Bumidirja membuka tanah hasil pemberian Ki Hastrasuta  atau Ki Gedhe Panjer Roma II, anak dari Ki Badranala.

Menurut riwayat yang ditulis oleh R. Soemodidjojo bahwa Kebumen berasal dari kata Ki Bumi yang merupakan nama samaran dari Pangeran Bumidirja yang kemudian trukah di tepi Sungai Luk Ulo, sehingga kemudian tempat tersebut dinamakan Kebumian.

Peralihan dari Panjer ke Kebumen

Pada masa Kesultanan Mataram, Panjer dikenal sebagai lumbung pangan strategis. Bahkan, wilayah ini pernah dimanfaatkan oleh Sultan Agung sebagai basis logistik dalam penyerangan ke Batavia pada tahun 1628–1629. Nama Kebumen konon berasal dari kabumian yang berarti sebagai tempat tinggal Kyai Bumi setelah dijadikan daerah pelarian Pangeran Bumidirja atau Pangeran Mangkubumi dari Mataram pada 26 Juni 1677, saat berkuasanya Amangkurat I. Pengeran Bumidirja merasa sudah tidak sepaham lagi dengan Amangkurat I yang memerintah secara sewenang-wenang. Ia memutuskan untuk pergi meninggalkan Mataram menuju Panjer.

Keberadaan Pangeran Bumidirja di Panjer akhirnya diketahui oleh Amangkurat I. Untuk menghindari penangkapan oleh prajurit Mataram yang dikirim Amangkurat I, Pangeran Bumidrja pergi meninggalkan Panjer menuju ke arah timur melalui daerah perbukitan yang ada di sebelah utara hingga akhirnya memutuskan untuk tinggal dan menetap di Dusun Karang yang kini masuk wilayah Kecamatan Kutowinangun.

Dalam Babad Arung Binang (Nassirun: 2021) dikisahkan Pangeran Bumidirjo atau Ki Bumi pertama tinggal di Panjer. Kemudian pindah lagi dan menetap di Dusun Karang. Sampai senja usianya. Sesuai pesannya, setelah meninggal agar dimakamkan di Dusun Lundong. Setelah meninggalnya Ki Bumi, yang menggantikan menjadi pemimpin Dusun Karang adalah anaknya yang bernama Ki Bekel. Sosok Ki Bekel benar-benar bisa menggantikan peran sang ayah. Hingga penghormatan rakyat tetap sama seperti ketika Ki Bumi masih ada. Setelah Ki Bekel meninggal, yang menggantikan adalah anaknya yang bernama Ki Ragil. Kecintaan rakyat pada sang pemimpin makin besar. Karena Ki Ragil berhasil memajukan Dusun Karang menjadi wilayah yang makmur dan sejahtera.

Ki Ragil mempunyai anak laki-laki bernama Ki Honggoyudo. Setelah Ki Ragil meninggal, yang menggantikan menjadi pemimpin Dusun Karang adalah Ki Honggoyuda. Perkembangan Dusun Karang semakin maju. Menjadi sebuah kota. Dusun Karang pun berganti nama menjadi Kutowinangun. Artinya sebuah kota besar yang berhasil dibangun. Dusun Karang berubah menjadi Kademangan Kutowinangun. Ki Honggoyuda atau Demang Kutowinangun mempunyai anak bernama Joko Sangkrip.

Dalam Babad Arung Binang (Nassirun: 2021) dikisahkan, Joko Sangkrip menjadi santri di Pesantren Bojongsari. Saat menjadi santri, Joko Sangkrib menderita penyakit kulit yang parah. Penyakit itu akhirnya sembuh setelah ia mandi di mata air Sendang Arum yang terletak tidak jauh dari rumahnya.  Joko Sangkrip diajar oleh Kyai Amat Yusup. Makam Kyai Amat Yusup sekarang terdapat di Desa Bojongsari.  Kyai Amat Yusup sekarang dikenal orang dengan nama Syekh Maulana Muhammad Yusuf. Makam dan bekas pesantrennya masih ada di Desa Bojongsari, Kecamatan Alian, Kebumen.

Setelah dewasa, Joko Sangkrip mengabdi di Keraton Mataram di Kartasura sebagai Mantri Gladag, kemudian sampai dengan Bupati Nayaka dengan Gelar Tumenggung Hanggawangsa. Atas jasanya-jasanya yang begitu banyak pada Kerajaan Mataram, oleh Paku Buana III, Joko Sangkrib diberi gelar Tumenggung Arung Binang.

Dalam Babad Kebumen tulisan Patih Yogyakarta, banyak nama di daerah Kebumen adalah berkat usulan dari Joko Sangkrib atau Tumenggung Arung Binang. Di dalam Babad Mataram disebutkan pula Tumenggung Arung Binang berperan dalam perang Mataram atau Perang Pangeran Mangkubumi, saat itu ia bertugas sebagai Panglima Prajurit Dalam di Karaton Surakarta.

Di Kebumen dikenal dengan nama Joko Sangkrip atau Tumenggung Arung Binang. Di Solo dikenal sebagai Tumenggung Hanggawangsa. Dialah orang yang memilih Desa Solo menjadi keraton baru bagi Mataram, setelah istana Kartasura porak poranda oleh serangan tentara Cina. Dialah penasihat kepercayaan Raja Mataram, Paku Buwana II, hingga akhirnya sang raja memindah keraton dari Kartasura ke Surakarta.

Ketika terjadi Geger Pacinan, Raden Mas Garendi dan prajurit Cina nenyerbu istana Kartasura. Dengan bantuan Belanda, Raja Mataram, Paku Buwana II melarikan diri ke Ponorogo. Dengan bantuan Belanda pula, Keraton Mataram Kartasura bisa direbut kembali. Namun, keadaan istana sudah rusak parah. Sang raja, Paku Buwana II tidak berkenan menempatinya, menginginkan membangun istana yang baru. Diutuslah dua patihnya, Tumenggung Pringgalaya dan Sindureja untuk mencari tempat yang baru. Mereka mendapat tiga tempat calon istana yang baru, yakni Desa Kadipolo, Desa Solo, Desa Sonosewu.

Tiga tempat itu kemudian disampaikan pada Paku Buwana II. Dan, sang raja meminta pertimbangan pada penasihatnya, Tumenggung Hanggawangsa, yang waktu itu dipercaya sebagai ahli nujum istana. Menurut Tumenggung Hanggawangsa, Desa Kadipolo tanahnya rata, namun untuk dibangun istana akan cepat rusak dan sering terjadi perang saudara. Sementara Desa Sonosewu kurang cocok, karena kerajaan akan berumur pendek, banyak perang besar, dan rakyat akan kembali menjadi Budha. Sedangkan Desa Solo, walaupun daerahnya penuh rawa, namun sangat baik untuk pusat kerajaan, karena akan berumur panjang, aman dan makmur, dan berwibawa.

Atas pertimbangan Tumenggung Hanggawangsa, Paku Buwana II memindah istana dari Kartasura ke Desa Solo yang kemudian diberi nama Keraton Surakarta Hadiningrat. Tumenggung Hanggawangsa pula yang memimpin pemindahan itu pada tanggal 17 Februari 1745 pukul 10.00 pagi.

Setelah Perang Mangkubumi, Tumemenggung Hanggawangsa pula yang ditunjuk oleh Paku Buwana III menjadi wakil dari Keraton Surakarta dalam Perjanjian Giyanti. Perjanjian yang membelah Mataram menjadi Surakarta dan Jogjakarta.

Pada Perjanjian Salatiga, Tumenggung Hanggawangsa juga yang menjadi wakil Keraton Surakarta dalam menghadapi Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa. Perjanjian yang menyepakati berdirinya Kadipaten Mangkunegaran.

Atas jasa-jasanya pada kerajaan, Tumengung Hanggawangsa kemudian mendapatkan gelar Tumenggung Arung Binang dari Paku Buwana III pada usia 70 tahun. Namun, karena sebuah kesalahan, pada hari tuanya, Tumenggung Arung Binang dibuang ke Hutan Lodoyo oleh Raja Paku Buwana III.

Atas pertolongan Raja Jogja, Sultan Hamengku Buwana I mengirim surat ancaman pada Sunan Paku Buwana III. Keraton Jogja akan menyerang Keraton Solo bila tidak membebaskan Tumenggung Arung Binang dari pembuangannya. Tak lama setelah bebas, Tumenggung Arung Binang meninggal pada usia 83 tahun, pada tahun 1762.

Sesuai wasiatnya, beliau dimakamkan di kampung halamannya, di Kutowinangun. Tepatnya di wilayah yang bersejarah baginya, yaitu di sekitar mata air Sendang Arum yang dulu membuat sakit kulitnya sembuh. Sekarang, tempat itu mudah ditemukan, karena berada persis di belakang Stasiun Kutowinangun.

Era Kepemimpinan Arung Binang

Pasca berakhirnya Perang Diponegoro, pemerintah kolonial Belanda melakukan penataan ulang wilayah di Jawa. Pada tahun 1832, Panjer resmi diubah namanya menjadi Kebumen. Saat itu, Kanjeng Raden Adipati Arung Binang IV yang merupakan keturunan dari Pangeran Bumidirja diangkat sebagai adipati pertama.

Sejak saat itu, trah Arung Binang memimpin Kebumen selama lebih dari satu abad. Pada masa ini pula mulai dibangun tata kota khas Jawa, seperti alun-alun, masjid agung di sisi barat, pendopo di utara, serta penjara di sisi timur yang menjadi ciri khas pusat pemerintahan tradisional.

Wilayah Kebumen secara administratif mengalami sejumlah perubahan pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Setelah terjadinya Perjanjian Giyanti (1755), wilayah Bagelen termasuk Kebumen di dalamnya yang semula merupakan wilayah negaragung berubah menjadi wilayah mancanegara.

Kekalahan Pangeran Diponegoro pada Perang Jawa mengakibatkan Bagelen sepenuhnya menjadi wilayah Keresidenan di bawah kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda. Kebumen kemudian menjadi salah satu kadipaten di bawah Keresidenan Bagelen. Nama “Kebumen” atau “Keboemen” baru dipakai untuk menamai wilayah pesisir barat Bagelen setelah berakhirnya Perang Jawa.

Sebelum Perang Jawa, wilayah Kebumen dikenal sebagai Kadipaten Panjer yang dipimpin oleh adipati yang bergelar Kolopaking. Namun, setelah berakhirnya Perang Jawa, Pemerintah Hindia Belanda mengubah nama Panjer menjadi Kebumen. Pigeaud menyebut bahwa sejak Perang Jawa banyak nama lama telah diubah karena struktur administrasi yang baru.

Berdasarkan Almanak Van Nederlandsch Indie tahun 1832, Kebumen ditetapkan sebagai kabupaten (regentschap) baru dengan bupati atau regentschapen yang bergelar Arung Binang. Bupati Kebumen pertama yang disebut dalam Almanak tersebut adalah Bupati Arung Binang IV.

Dengan dihapuskannya Keresidenan Bagelen pada tahun 1901, maka Kebumen dan wilayah Keresidenan Bagelen lainnya digabung ke dalam Keresidenan Kedu. Karesidenan Mataram dahulu dibagi menjadi empat bagian, yaitu Negaragung yang meliputi area kota-kerajaan, Nagaranegara, yaitu daerah kaum bangsawan dan pemegang istana, Mancanegara, yaitu daerah yang diperintah oleh bupati, dan Pasisir, yaitu daerah pelabuhan yang dipimpin oleh bupati. Tercatat bahwa pada 1901, Kebumen merupakan Kabupaten di bawah Keresidenan Kedu yang memiliki empat kawedanan (district), yaitu Kawedanan Kebumen, Kawedanan Kutowinangun, Kawedanan Karanganyar, dan Kawedanan Gombong.

Kawedanan adalah wilayah administratif pemerintahan yang berada di bawah kabupaten dan di atas kecamatan yang berlaku pada masa Hindia-Belanda dan beberapa tahun setelah kemerdekaan Indonesia dihapus di beberapa provinsi. Pemimpinnya disebut wedana. Pada masa itu fungsi kawedanan dibatasi hanya sebatas wilayah koordinasi beberapa kepala desa di bawah asuhan seorang pembantu bupati, yaitu patih.

Kebumen juga merupakan nama untuk afdeeling yang terdiri dari dua kabupaten, yaitu Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Karanganyar. Afdeeling berpusat di kota administratif, di mana pusat afdeeling Kebumen berada di district Kebumen. Pada tahun 1936, Kabupaten Karanganyar dihapuskan dan wilayahnya digabung ke dalam Kabupaten Kebumen. Hingga saat ini Karanganyar menjadi salah satu kecamatan di Kabupaten Kebumen.

Pembangunan Infrastruktur Kolonial

Memasuki abad ke-19, Kebumen berkembang pesat sebagai pusat administrasi kolonial. Pemerintah Hindia Belanda membangun berbagai infrastruktur penting untuk menunjang aktivitas pemerintahan dan ekonomi.

Salah satunya adalah Jalan Raya Pos yang digagas oleh Herman Willem Daendels, yang membelah pusat kota dan memperlancar arus perdagangan. Selain itu, hadirnya jalur kereta api dengan dibangunnya Stasiun Kebumen pada tahun 1887 oleh Staatsspoorwegen menjadikan wilayah ini terhubung langsung dengan Yogyakarta dan Cilacap.

Fasilitas kesehatan juga mulai dibangun, salah satunya adalah RSUD Boedhi Laksana (kini dikenal sebagai RSUD dr. Soedirman lama), yang awalnya diperuntukkan bagi pejabat kolonial dan kalangan bangsawan.

Daftar Adipati Kebumen di Era Kolonial

Kadipaten Panjer di bawah Kerajaan Mataram pada tahun 1642 dengan Ki Badranala sebagai adipati pertama. Panjer pada zaman penjajahan Belanda dijadikan gudang beras oleh Kerjaaan Mataram. Panjer kerap menjadi medan pertempuran hingga Panjer berubah menjadi nama Kebumen pada tahun 1936. Berikut ini para daftar penguasa Kebumen pada era kolonial.

  1. Ki Badranala (1642–1657)
  2. Ki Hastrasuta (1657–1677)
  3. Tumenggung Kolopaking I (1677–1710)
  4. Tumenggung Kolopaking II (1710–1751)
  5. Tumenggung Kolopaking III (1751–1790)
  6. Tumenggung Kolopaking IV (1790–1833)
  7. Tumenggung Arung Binang IV (1833–1861)
  8. Tumenggung Arung Binang V (1861–1890)
  9. Tumenggung Arung Binang VI (1890–1908)
  10. Tumenggung Arung Binang VII (1908–1934)
  11. Tumenggung Arung Binang VIII (1934–1942)

Menuju Kota Pendidikan dan Jasa

Memasuki era modern, Kecamatan Kebumen terus berkembang sebagai pusat layanan publik, pendidikan, dan jasa. Berbagai sekolah unggulan berdiri di wilayah ini, memperkuat perannya sebagai pusat intelektual daerah.

Sejumlah situs bersejarah masih terjaga hingga kini, seperti Masjid Agung Kauman Kebumen yang mencerminkan arsitektur Islam-Jawa klasik, serta Pendopo Kabumian yang menjadi simbol kekuasaan eksekutif daerah.

Tak jauh dari pusat kota, terdapat Kompleks Makam Arung Binang, Makam Badranala sebagai tempat peristirahatan para leluhur Kebumen. Sementara itu, Tugu Lawet menjadi ikon daerah yang melambangkan kejayaan Kebumen sebagai penghasil sarang burung walet.

Dengan sejarah panjang dan perkembangan yang dinamis, Kecamatan Kebumen kini tidak hanya menjadi pusat pemerintahan, tetapi juga simbol identitas dan kebanggaan masyarakat Kebumen.

 

DAFTAR PUSTAKA

Abimanyu, Soedjibto. 2014. Babad Tanah Jawi. Yogyakarta: Laksana.

Gunawan. 2024. Babad Mangir: Kisah dan Sejarah Ki Ageng Mangir. Jakarta: Gramedia

Purwokartun, Nassirun. 2021. Babad Arung Binang (Sejarah Kebumen). Banyumas: Bale Pustaka Cahaya.

Purwokartun, Nassirun. 2025. Babad Kolopaking (Sejarah Kebumen). Banyumas: Yayasan Bale Pustaka Cahaya.

 

PROFIL PENULIS

Aris Margono, pria kelahiran Kebumen 22 November 1976 merupakan lulusan Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Semarang, Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia. Akitvitas sehari-hari sebagai Kepala  SMP Negeri 1 Prembun Kabupaten Kebumen. Sebelumnya, selama sepuluh tahun sebagai guru di Kabupaten Wonosobo. Aktivitas lainnya, sebagai Ketua KLSKK (Komunitas Literasi Sekolah Kabupaten Kebumen), dan Ketua Yayasan Attaqwa Insan Cendekia yang didirikannya.

Buku kumpulan puisi, cerpen, novel, dan buku-buku sejarah lokal karyanya terinspirasi oleh tautan berbagi peristiwa yang pernah terjadi dalam kehidupannya. Seperti pengalamannya pada masa kecil tinggal di Mirit Kebumen yang dikenal dengan Urut Sewu, sehingga melahirkan buku Mbah Lancing Penyebar Agama Islam di Urut Sewu (2020).

Buku-buku karyanya yang sudah terbit antara lain: Kumpulan Cerpen Harap yang Tak Terungkap (2002), Kumpulan Puisi Negeri di Atas Awan (2009), Kumpulan Puisi Sajak Secangkir Kopi (2010), Novel Berandal Cinta dari Urut Sewu (2012), Novel Drupadi Dunia Pustaka (2019), Buku Mbah Lancing Penyebar Agama Islam di Urut Sewu (2020), Kumpulan Cerpen Mendayung Perahu Rapuh (2021), Novel Petualangan Cinta Berakhir oleh Corona (2022), Legenda Asal Mula Poncowarno (2023), Dewi Rengganis Sang Penjaga Desa Penimbun (2023), Novel Tiga Negara Dua Hati Satu Cinta (2024), dan Novel Catatan Cici: Vonis Penista Sang Penyintas (2025).

Selain aktif menulis, aktivis literasi ini juga mengelola website yayasan pendidikan keagamaan yang didirikannya dengan alamat https://www.attaqwainsancendekia.com/ Penulis dapat dihubungi via email arismargono75@gmail.com

 

 

 

 

 

Komentari Tulisan Ini